ANALOGI ARSITEKTUR DALAM AL-QUR’AN

(Peranan lebah madu bagi arsitektur)

                                                                               

OLEH,

NURMASYITHAH

110160027

 

PRODI ARSITEKTUR

JURUSAN TEKNIK

UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

2016

BAB 1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

وَقُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ سَيُرِيكُمۡ ءَايَـٰتِهِۦ فَتَعۡرِفُونَہَا‌ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَـٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ (٩٣)

“Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. An-Naml : 93).

Al-Qur’an adalah Anugerah bagi seluruh alam, sebuah pedoman tanpa cela yang mengulas tentang seluruh alam semesta, tentang apa-apa yang tersurat dan apa-apa yang masih tersirat. Al-Qur’an juga merupakan salah satu petunjuk utama dalam tersingkapnya rahasia-rahasia alam, baik itu secara logika maupun secara bukti-bukti nyata yang terjadi. Dengan bantuan teknologi masa kini, semakin banyak pula rahasia-rahasia yang dulunya tidak terjangkau oleh manusia kini menjadi semakin nyata terungkapnya. Hal yang menakjubkan adalah, rahasia-rahasia yang diungkapkan oleh ilmuan masa kini atau beberapa dekade silam ternyata telah lebih dulu tertulis di dalam Al-Qur’an dalam masa ribuan tahun silam.

Al-Qur’an bukan hanya menyingkap masa depan, namun juga menguak tabir masa lalu, mengisahkan hal-hal yang tidak pernah kita jumpai karena masa yang telah terlewati maupun hal –hal yang akan kita jumpai karena masa yang belum kita jejaki.

Dari segi teknologi bangunan, Al-Qur’an mengisahkan dengan jelas, dari masa dimana manusia belum menetap, masa manusia pertama sekali menetap, masa dimana bangunan pertama sekali dibangun pada era prasejarah, masa dimana bangunan merupakan gua-gua yang masih kasar hingga masa dimana bangunan-bangunan tinggi didirikan. Selain itu, Al- Qur’an juga mengisahkan Arsitektural dari sudut makhluk ciptaan Allah SWT yang lain.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡىِۦۤ أَن يَضۡرِبَ مَثَلاً۬ مَّا بَعُوضَةً۬ فَمَا فَوۡقَهَا‌ۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡ‌ۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ ڪَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَـٰذَا مَثَلاً۬‌ۘ يُضِلُّ بِهِۦ ڪَثِيرً۬ا وَيَهۡدِى بِهِۦ كَثِيرً۬ا‌ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦۤ إِلَّا ٱلۡفَـٰسِقِينَ (٢٦)

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?.” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik. (QS. Al-Baqarah :26).

Salah satu makhluk yang dicontohkan Allah di dalam Al-Qur’an adalah lebah madu.




Lebah merupakan sekelompok besar serangga yang dikenal karena hidupnya berkelompok meskipun sebenarnya tidak semua lebah bersifat demikian. Semua lebah masuk dalam suku atau familia Apidae (ordo Hymenoptera: serangga bersayap selaput). Di dunia terdapat kira-kira 20.000 spesies lebah dan dapat ditemukan di setiap benua, kecuali Antartika.

Sebagai serangga, lebah madu mempunyai tiga pasang kaki dan dua pasang sayap. Lebah membuat sarangnya di atas bukit, di pohon-pohon dan pada atap rumah. Sarangnya dibangun dari propolis (perekat dari getah pohon)  yang diproduksi oleh kelenjar-kelenjar lebah betina yang masih muda yang terdapat dalam badannya. Adapun untuk memperoleh makanan, lebah menghisap nektar bunga dan serbuk sari.

Gerakan lebah madu diadopsi menjadi gerakan dansa dan kode rahasia, madunya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan dan pengobatan. Selain itu, lebah madu juga memberikan contoh bagi perkembangan ilmu bangunan.

Adapun hal-hal yang dapat di terapkan dalam karya Arsitektural dari sarang lebah adalah :

  1. Pengaturan kelembapan dan ventilasi
  2. Penyimpanan maksimal dengan bahan minimal
  3. Estetika

Rumusan Masalah

1. Bagaimana memaknai alam dari sudut pandang Al-Qur’an

2. Bagaimana penerapan sarang lebah madu dalam ilmu arsitektural

  •  

Tujuan

1. Mengetahui nilai-nilai yang terkandung pada lebah madu berdasarkan penjelasan dalam Al-Qur’an

2. Mengetahui penerapan sarang lebah madu dalam ilmu arsitektural

  •  

Manfaat

Membuka wawasan dan pola pikir calon Arsitek, bahwa semua yang telah di bangun dan berusaha kita bangun hari ini telah tertulis dalam Al-Qur’an beribu tahun sebelumnya.

Pendekatan

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, yaitu dengan mengumpulkan data primer dan sekunder untuk kemudian dianalisa dan dirumuskan agar dapat memperoleh kesimpulan yang dibutuhkan. Proses-proses pengumpulan data dilakukan dengan cara :

  1. Data Primer
  2. Melakukan studi literatur
  3. Data Sekunder
  4. Studi literatur dari Al-Qur’an

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Analogi

Dalam pengertian umum, analogi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan terhadap gejala khusus dengan membandingkan atau mengumpamakan suatu objek yang sudah teridentifikasi secara jelas terhadap objek yang dianalogikan sampai dengan kesimpulan yang berlaku umum.

2.2 Pengertian Arsitektur

Menurut Vitruvius dalam bukunya De Architectura (yang merupakan sumber tertulis tertua yang masih ada hingga sekarang), bangunan yang baik harus memiliki Kecantikan / Estetika (Venustas), Kekuatan (firmitas), dan Penggunaan / Fungsi (Utilitas); arsitektur dapat dikatakan keseimbangan dan koordinasi antara ketiga unsur ini, dan tidak ada satu elemen yang melebihi unsur lainnya. Dalam definisi modern, arsitektur harus mencakup pertimbangan fungsi, estetika, dan psikologis.

Pemahaman Vitruvius ini telah disebutkan di dalam Al-Qur’an melalui ayat-ayat yang menjelaskan tentang keistimewaan alam semesta melalui hewan-hewan yang dicontohkan di dalam Al-Qur’an.

  1. Sarang Lebah : Venustas

وَأَوۡحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحۡلِ أَنِ ٱتَّخِذِى مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتً۬ا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعۡرِشُونَ (٦٨) ثُمَّ كُلِى مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٲتِ فَٱسۡلُكِى سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلاً۬‌ۚ يَخۡرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٌ۬ مُّخۡتَلِفٌ أَلۡوَٲنُهُ ۥ فِيهِ شِفَآءٌ۬ لِّلنَّاسِ‌ۗ إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَأَيَةً۬ لِّقَوۡمٍ۬ يَتَفَكَّرُونَ (٦٩)

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An Nahl: 68-69)




Lebah mengambil yang baik dengan cara yang baik dan menghasilkan yang baik. Lebah mengambil nektar (cairan manis) dari bunga dengan cara yang baik untuk dijadikan madu yang sangat bermanfaat bagi manusia. Penelitian ilmiah terkini mengungkapkan bahwa untuk memproduksi setengah kilogram madu, lebah harus mengunjungi sekitar empat juta kuntum bunga. Sungguh perjuangan yang berat dan panjang, apalagi itu semua dipersembahkan lebah untuk manusia. Sayangnya kadang manusia menjahili lebah tak bersalah padahal lebah hanya akan menyerang bila diganggu dan tidak pernah mengusik manusia jika ia tidak diusik. Harusnya kita mengambil pelajaran dari sini.

Selain berakhlak baik, lebah juga memiliki sarang yang begitu indah. Sarang yang terbentuk dari bentukan heksagonal yang dibuat secara berulang, sehingga tersusun menjadi komposisi yang menarik dengan proporsi yang tepat.

“…and beauty, when the appearance of the work is pleasing and in good taste, and when its members are in due proportion according to correct principles of symmetry.” (Vitruvius : Ten Books on Architecture. Book I. Chapter III.)

Proporsi dan simetri merupakan faktor yang dianggap Vitruvius mempengaruhi keindahan. Hal ini ia dasarkan pada tubuh manusia yang setiap anggota tubuhnya memiliki proporsi yang baik terhadap keseluruhan tubuh dan hubungan yang simetrikal dari beberapa anggota tubuh yang berbeda ke pusat tubuh. Hal ini, kemudian, diilustrasikan oleh Leonardo da Vinci pada Vitruvian Man.

Selain itu, seperti yang telah disebutkan oleh Vitruvius juga, arsitektur yang baik memperhatikan ketiga aspek itu. Memang yang menonjol dari sarang lebah adalah keindahan, namun bukan berarti tidak kuat dan tidak berfungsi.

Menurut ahli matematika, cara terbaik membangun gudang simpanan dengan kapasitas terbesar dan menggunakan bahan bangunan sesedikit mungkin adalah dengan membuat dinding berbentuk heksagonal.

Andaikan lebah membangun kantung-kantung penyimpan tersebut dalam bentuk lain, akan terbentuk celah kosong di antara kantung satu dan lainnya atau lebih sedikit madu tersimpan di dalamnya.

Kemudian, yang menarik lagi adalah ketika proses konstruksi dari sarang lebah. Mereka memulai membangun sarangnya dari titik yang berbeda-beda. Ratusan lebah menyusun rumahnya dari tiga atau empat titik awal yang berbeda. Mereka melanjutkan penyusunan bangunan tersebut sampai bertemu di tengah-tengah. Tidak ada kesalahan sedikitpun pada tempat di mana mereka bertemu. Perhitungan yang sempurna.

Bahkan dalam penerapannya pada bangunan arsitektur modern, fungsi utilitasnya dapat digunakan sebagai upaya pemasok cahaya maksimal untuk sebuah bangunan peristirahatan siswa yang dirancang oleh Ryan Ficher. Sedang kekokohan sarang lebah madu diterapkan pada The Sinostel skycrapper dimana bangunan ini mengandalkan bentukan heksagonal sarang lebah madu sebagai strukturnya.

2. Sarang Semut : Utilitas

Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut:

حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوۡاْ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمۡلِ قَالَتۡ نَمۡلَةٌ۬ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمۡلُ ٱدۡخُلُواْ مَسَـٰكِنَڪُمۡ لَا يَحۡطِمَنَّكُمۡ سُلَيۡمَـٰنُ وَجُنُودُهُ ۥ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ (١٨) فَتَبَسَّمَ ضَاحِكً۬ا مِّن قَوۡلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِىٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٲلِدَىَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَـٰلِحً۬ا تَرۡضَٮٰهُ وَأَدۡخِلۡنِى بِرَحۡمَتِكَ فِى عِبَادِكَ ٱلصَّـٰلِحِينَ (١٩)

“Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”. Maka Dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. dan Dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS. An Naml: 18-19)

Semut adalah binatang yang perkasa dan santun. Ia mampu mengangkat beban yang lebih besar dan lebih berat dari dirinya. Ia mengucapkan salam dan berjabat tangan kala berpapasan dengan sesamanya. Semut adalah binatang yang berkelompok. Tiap semut ada perannya, entah itu prajurit entah pekerja. Semut memiliki ketajaman indra, sikap hati-hati, kedisiplinan, dan etos kerja yang sangat tinggi. Mereka pun membangun jaringan komunikasi dan pertahanan yang sangat kompleks.

“…convenience, when the arrangement of the apartments is faultless and presents no hindrance to use, and when each class of building is assigned to its suitable and appropriate exposure;..” (Vitruvius : Ten Books on Architecture. Book I. Chapter III.)

Jadi, yang ditekankan pada aspek Utilitas adalah pengaturan ruang yang baik, didasarkan pada fungsi, hubungan antar ruang, dan teknologi bangunan (pencahayaan, penghawaan, dan lain sebagainya). Pengaturan seperti ini terdapat dalam sarang semut.

Harun Yahya, dalam bukunya ‘Keajaiban pada Semut’, mengumpamakan sarang semut sebagai markas tentara yang sangat sistematis dan ideal. Seluruh ruang yang terdapat di dalamnya dirancang agar setiap prajurit dapat menjalankan fungsinya masing-masing dengan tingkat kesesuaian yang sempurna.

Ruang yang memerlukan energi matahari, walaupun berada di bawah tanah, memperoleh sinar matahari dengan sudut seoptimal mungkin. Sarang semut juga memiliki mekanisme pengaturan panas (sistem ventilasi atau penghawaan) dan sterilisasi ruang yang juga menjadi bukti dari keajaiban makhluk ciptaan Allah SWT ini. Hal tersebut seperti yang dibutuhkan dalam perancangan sebuah rumah sakit.

Ruang-ruang dalam sarang semut yang membutuhkan akses yang cepat dan senantiasa berhubungan, dibangun berdekatan. Gudang-gudang penyimpanan bahan makanan mudah dicapai dan terhindar dari kelembaban yang berlebihan. Sebagai pusatnya, terdapat ruang yang cukup luas, yang berfungsi sebagai tempat berkumpul dan pengikat ruang-ruang lainnya.

Tambahan dari Quran surat An Naml ayat 18 yang ditulis awal, dapat kita ambil hikmah bahwa arsitektur harus melindungi dan mengamankan kita dari bahaya luar seperti cuaca, hewan buas, dan ancaman-ancaman lain yang mungkin kita dapatkan.

3. Sarang Laba-laba : Firmitas

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُون َ

“perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS. Al Ankabuut: 41)

“Durability will be assured when foundations are carried down to the solid ground and materials wisely and liberally selected;…” (Vitruvius : Ten Books on Architecture. Book I. Chapter III.)

Firmitas yang dimaksud Vitruvius mencakup penyaluran beban yang baik dari bangunan ke tanah dan juga pemilihan material yang tepat. Vitruvius menjelaskan setiap material yang ia pakai dalam bangunannya, seperti batu bata, pasir, kapur, pozzolana, batu dan kayu. Setiap material dijelaskan mulai dari karakteristik dari tiap jenis-jenisnya hingga cara mendapatkan/membuatnya. Kemudian, ia menjelaskan metode membangunnya (konstruksi).

Anehnya, sarang laba-laba disebut paling lemah. Namun alasan kuat saya memasukkannya dan menyebutnya sebagai strutur terkuat, adalah :

Ilmuan Jelinskis dan temannya dari Cornell University, Ithaca, New York, mengungkap rahasia laba-laba. Dalam penelitiannya di laboratorium, ditemukan bahwa jaring laba-laba yang diproduksi dari tubuh binatang itu sendiri, terbuat dari molekul berbentuk serat, yang tersusun dari 42% residu asam animo glisin, 25% alanin, dan 33% sisanya glutamin, serin, dan triosin.

Analisi Resonansi Magnetik Serat terhadap jaring laba-laba yang mengandung 40% alanin menunjukan suatu struktur yang terorganisir sangat rapi dan berbentuk seperti kristal. Jaring laba-laba ternyata tahan air.




Jaring laba-laba juga memiliki kekuatan lima kali lebih besar daripada seutas kabel baja dengan ukuran yang sama.

Selain itu, jaring ini juga memiliki fleksibilitas yang sangat tinggi, yaitu dapat menahan regangan sampai empat kali panjang awalnya. Keistimewaan lainnya, dengan panjang sekitar 40.000 km (setara dengan panjang keliling bumi), sehelai benang sutera ini bahkan hanya memiliki berat sebesar 320 gram. Betapa kuat, elastis, dan ringan. Para arsitek dari Jerman mengembangkan konstruksi lebar yang sangat kuat tetapi tipis yang diilhami dari jaring laba-laba.

Dari segi struktural, jaring laba-laba terdiri dari serangkaian benang-benang bingkai penahan beban, benang-benang spiral penangkap dan benang-benang pengikat yang menyatukan semuanya. Jaring laba-laba merupakan satu kesatuan sistem struktur yang masing-masing bagiannya saling mempengaruhi. Benang-benang pembentuk jaring merupakan benang-benang yang meregang, dan gaya yang bekerja pada struktur adalah gaya tarik.

Pada keadaan normal, benang-benang yang teregang biasanya putus karena retakan yang terjadi pada permukaan akan membelah benang dengan cepat. Gaya-gaya yang bekerja di sepanjang serat terpusat pada retakan dan mengakibatkan sobekan ke dalam semakin cepat. Hal yang menarik, adalah pada sarang laba-laba, komposisi bahan yang terdiri dari rantai asam amino dan kristal mencegah peristiwa ini. Kristal-kristal yang tersusun secara teratur dalam benang menyebabkan sobekan-sobekan yang terjadi berbelok-belok dan melemah. Cara ini kemudian digunakan pula pada kabel-kabel industri yang menahan beban berat, seperti pada jembatan layang dan high-rise building.

Jadi, jaring laba-laba sama sekali tidak lemah. Lantas, mengapa Al Quran menyebut lemah? Firman Allah tidak mungkin keliru. Coba perhatikan ayat di atas baik-baik, ternyata yang di sebutkan lemah adalah rumah laba-laba (baitul ankabut), bukan jaring laba-laba (nusjatul-ankabut/spider-web).

Rumah laba-laba inilah yang mungkin bersifat lemah. Karena memang kelemahan dari struktur jaring laba-laba yang hanya menahan gaya tarik ini adalah kurang mampu menahan gaya tekan, terutama gaya tekan yang datang tiba-tiba dan melebihi ambang batas kekuatan bangunan.

Karena itu, pada sebagian besar bangunan konvensional, penggunaan baja yang memiliki kekuatan dalam menahan gaya tarik dikombinasikan dengan penggunaan beton yang memiliki kekuatan menahan gaya tekan.

Kemudian sebagai sebuah struktur, kerusakan pada salah satu bagian sarang laba-laba, misalnya putusnya salah satu benang, mengakibatkan bagian lainnya melemah dan berangsur-angsur putus pula. Hal ini dikarenakan, kemampuan menahan gaya tarik yang jauh berkurang pada keseluruhan struktur. Kelemahan lainnya adalah, bagian spiral untuk menangkap mangsa dapat dengan mudah rusak karena hujan, debu atau gerakan mangsa yang terperangkap. Karena itu, jaring laba-laba memerlukan pengurusan terus-menerus.

Mungkin itulah maksud Al Quran mengumpamakan rumah laba-laba ini. Bila kita mengambil pelindung-pelindung selain Allah, iman kita akan mudah hancur seperti jaring laba-laba, sehingga kita disibukkan secara terus-menerus untuk melindungi iman kita dari kerusakan. Padahal seperti rumah, seharusnya iman-lah yang melindungi kita.

Ternyata konsep yang dibawa oleh Vitruvius sudah terkandung dalam ciptaan Allah SWT sehingga konsep tersebut tinggal diterapkan di dalam dunia keilmuan arsitektur. Inilah Arsitektur Islam.

Pemaknaan lebih dalam kepada keilmuan Arsitektur, sejatinya akan mengantarkan manusia kepada kesadaran yang lebih tinggi (transendensi) akan keesaan dan kebesaran Allah SWT. Pada akhirnya, keilmuan menjadi penguat dan penegak keyakinan agama. Ya, Arsitektur adalah ilmu dari Allah. (https://rezaprimawanhudrita.wordpress.com/2010/06/14/arsitektur-firmitas-utilitas-dan-venustas/)

2.3 Pengertian Alam

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ (١)

Kata ‘aalam berasal dari kata `alaamah (tanda) mengingat ia adalah tanda bagi adanya yang menciptakannya. (Segala puji bagi Allah) Lafal ayat ini merupakan kalimat berita, dimaksud sebagai ungkapan pujian kepada Allah berikut pengertian yang terkandung di dalamnya, yaitu bahwa Allah Ta’ala adalah yang memiliki semua pujian yang diungkapkan oleh semua hamba-Nya. Atau makna yang dimaksud ialah bahwa Allah Taala itu adalah Zat yang harus mereka puji. Lafal Allah merupakan nama bagi Zat yang berhak untuk disembah. (Tuhan semesta alam) artinya Allah adalah yang memiliki pujian semua makhluk-Nya, yaitu terdiri dari manusia, jin, malaikat, hewan-hewan melata dan lain-lainnya. Masing-masing mereka disebut alam. Oleh karenanya ada alam manusia, alam jin dan lain sebagainya. Lafal ‘al-`aalamiin’ merupakan bentuk jamak dari lafal ‘`aalam’, yaitu dengan memakai huruf ya dan huruf nun untuk menekankan makhluk berakal/berilmu atas yang lainnya. (Jalaluddin Al Mahalli As Suyuthi ; Tafsir Al Jalalain Q.S. Al-Fatihah: 1 )

2.3.1. Definisi alam di dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah satu-satunya Kitab suci yang masih terjaga kemurniannya.

ذَٲلِكَ ٱلۡڪِتَـٰبُ لَا رَيۡبَ‌ۛ فِيهِ‌ۛ هُدً۬ى لِّلۡمُتَّقِينَ (٢)

Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (Q.S Al-Baqarah : 2 )

Dan di dalamnya terkandung rahasia-rahasia alam semesta. Allah SWT telah menjelaskan segala hal tentang alam di dalam Al-Qur’an, mulai dari proses penciptaannya. Al-Qur’an diturunkan bukan hanya kepada umat Islam, namun untuk memberikan pengetahuan kepada seluruh makhlukNya. Al-Qur’an tidak dapat ditandingi oleh siapapun di dunia ini. Seperti yang telah ditegaskan Allah SWT di dalam Al-Qur’an.

وَإِن ڪُنتُمۡ فِى رَيۡبٍ۬ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا فَأۡتُواْ بِسُورَةٍ۬ مِّن مِّثۡلِهِۦ وَٱدۡعُواْ شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِينَ (٢٣)

Dan jika kamu meragukan (Al-Qur’an) yang kami turunkan kepada hamba kami (Muhammad), maka buat saja satu surah semisal dengannya. Dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (Al- Baqarah : 23).

Mengenai penciptaan alam, para ilmuan menyimpulkan bahwa adanya kesesuaian antara teori ilmiah dengan apa yang disebutkan di dalam Al-Qur’an.

Dalam pandangan sains modern, pada awalnya alam semesta ini masih berupa kabut gas yang panas dan kemudian terpisah. Terpisahnya kabut gas ini merupakan proses awal terciptanya galaksi-galaksi. Dari pecahan-pecahan kabut gas tersebut selanjutnya melalui proses evolusi terbentuk milyaran matahari dengan planet-planetnya, termasuk bumi yang kita huni ini. Ilmuwan cerdas yang pertama kali mengemukakan teori di atas bernama Laplace dari Perancis dan Immanue Kant dari Jerman.

Meskipun demikian, ratusan tahun sebelum ilmuwan itu mengemukakan teorinya, Al-Qur’an telah menyebutkan secara gamblang. sebagaimana tertulis dalam Surat Al Anbiya ayat 30:

أَوَلَمۡ يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ ڪَانَتَا رَتۡقً۬ا فَفَتَقۡنَـٰهُمَا‌ۖ وَجَعَلۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ كُلَّ شَىۡءٍ حَىٍّ‌ۖ أَفَلَا يُؤۡمِنُونَ (٣٠)

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga yang beriman?”.

Ayat tentang asal mula alam semesta dari kabut / nebula :

ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ وَهِىَ دُخَانٌ۬ فَقَالَ لَهَا وَلِلۡأَرۡضِ ٱئۡتِيَا طَوۡعًا أَوۡ كَرۡهً۬ا قَالَتَآ أَتَيۡنَا طَآٮِٕعِينَ (١١)

Artinya : “Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.

(Q.S Fussilat : 11) (http://rasyid-ic.blogspot.co.id/2012/01/terjadinya-alam-semesta-menurut alquran.html)

Teori alam semesta ini berasal dari kabut gas yang panas, dapat juga dibaca dalam surat Fushillat ayat 9-12.

قُلۡ أَٮِٕنَّكُمۡ لَتَكۡفُرُونَ بِٱلَّذِى خَلَقَ ٱلۡأَرۡضَ فِى يَوۡمَيۡنِ وَتَجۡعَلُونَ لَهُ ۥۤ أَندَادً۬ا‌ۚ ذَٲلِكَ رَبُّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (٩) وَجَعَلَ فِيہَا رَوَٲسِىَ مِن فَوۡقِهَا وَبَـٰرَكَ فِيہَا وَقَدَّرَ فِيہَآ أَقۡوَٲتَہَا فِىٓ أَرۡبَعَةِ أَيَّامٍ۬ سَوَآءً۬ لِّلسَّآٮِٕلِينَ (١٠) ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ وَهِىَ دُخَانٌ۬ فَقَالَ لَهَا وَلِلۡأَرۡضِ ٱئۡتِيَا طَوۡعًا أَوۡ كَرۡهً۬ا قَالَتَآ أَتَيۡنَا طَآٮِٕعِينَ (١١) فَقَضَٮٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَـٰوَاتٍ۬ فِى يَوۡمَيۡنِ وَأَوۡحَىٰ فِى كُلِّ سَمَآءٍ أَمۡرَهَا‌ۚ وَزَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِمَصَـٰبِيحَ وَحِفۡظً۬ا‌ۚ ذَٲلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ (١٢)

“Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam;

Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya;

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”

Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Q.S Fushillat 9-12).

Ada beberapa kesimpulan penting yang dapat kita petik dari ayat-ayat di atas, yaitu:

1. Disebutkan bahwa antara langit dan bumi (kosmos) semula merupakan satu kesatuan lalu mengalami proses pemisahan.

2. Disebutkan adanya kabut gas (dukhan) sebagai materi penciptaan kosmos.

3. Disebutkan pula bahwa penciptaan kosmos (alam semesta) tidak terjadi sekaligus, tetapi secara bertahap. Apabila dikaitkan dengan sejumlah teori seputar terjadinya kosmos menurut sains modern, maka konsep penciptaan semesta yang tertera dalam Al-Qur’an tidak dapat disangkal lagi kebenarannya.




Adanya kumpulan kabut gas dan terjadinya pemisahan-pemisahan kabut gas tersebut atau dikenal dengan proses evolusi terbentuknya alam semesta, sudah dipaparkan secara jelas oleh Al-Qur’an jauh sebelum sains modern mengemukakannya.

Allah SWT, di dalam Al-Qur’an juga menjelaskan tentang proses penciptaan bumi dan alam semesta dalam surat An Nazi’at ayat 27 – 33.

Dalam ayat tersebut tertulis bumi dan alam semesta tercipta dalam enam masa. Masih dalam perdebatan mengenai enam masa yang dimaksud. Entah itu enam tahun, enam hari, enam periode, ataupun enam tahapan. Dalam hal ini kami mencoba mengkaji enam masa yang dimaksud.

ءَأَنتُمۡ أَشَدُّ خَلۡقًا أَمِ ٱلسَّمَآءُ‌ۚ بَنَٮٰهَا (٢٧) رَفَعَ سَمۡكَهَا فَسَوَّٮٰهَا (٢٨) وَأَغۡطَشَ لَيۡلَهَا وَأَخۡرَجَ ضُحَٮٰهَا (٢٩) وَٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ ذَٲلِكَ دَحَٮٰهَآ (٣٠) أَخۡرَجَ مِنۡہَا مَآءَهَا وَمَرۡعَٮٰهَا (٣١) وَٱلۡجِبَالَ أَرۡسَٮٰهَا (٣٢) مَتَـٰعً۬ا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَـٰمِكُمۡ (٣٣)

Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit yang Allah telah membangunnya. Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya. Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita,dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan Bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya,dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh. Semua itu untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatag ternakmu. (Q.S. Annaziat : 27-33)

Dalam ayat tersebut dimulailah mengenai masa I penciptaan bumi. Pada masa I ini dijelaskan mengenai penciptaaan langit. Dalam ilmu tata surya dikenal dengan istilah ”Teori Big Bang”. Teori Big Bang adalah salah satu teori ilmu pengetahuan yang menjelaskan perkembangan dan bentuk awal dari alam semesta. Teori ini menyatakan bahwa alam semesta ini berasal dari kondisi super padat dan panas, yang kemudian mengembang sekitar 13.700 juta tahun lalu. alam semesta pertama kali terbentuk dari ledakan besar. Bukti dari teori ini ialah gelombang mikrokosmik di angkasa dan juga dari meteorit. Awan debu (dukhan) yang terbentuk dari ledakan tersebut, terdiri dari hidrogen.

Hidrogen adalah unsur pertama yang terbentuk ketika dukhan berkondensasi sambil berputar dan memadat. Bisa diaktakan awan dan langit yang kita lihat selama ini adalah bentuk pertama dari penciptaan bumi dan alam semesta.

Selanjutnya, angin bintang menyembur dari kedua kutub dukhan, menyebar dan menghilangkan debu yang mengelilinginya. Sehingga, dukhan yang tersisa berupa piringan, yang kemudian membentuk galaksi. Bintang-bintang dan gas terbentuk dan mengisi bagian dalam galaksi, menghasilkan struktur filamen (lembaran) dan void (rongga). Jadi, alam semesta yang kita kenal sekarang bagaikan kapas, terdapat bagian yang kosong dan bagian yang terisi. (alam semesta menurut pandangan islam _ Wijil Setyana Putra.pdf)

2.3.2 Pembagian alam

Jika para ulama fikih hanya membagi dua alam, yakni alam syahadah dan alam gaib, para sufi membagi alam ke dalam berbagai tingkatan.
Pembagian besarnya tetap sama, hanya dibagi pada alam syahadah mutlak dan alam gaib mutlak. Di antara dua alam mutlak itu ada alam antara (barzakh).

Bagi Ibnu Arabi, alam syahadah tidak murni alam fisik karena ia hanya elemen dasar dari rangkaian tingkatan alam yang terdiri atas tanah, air, udara, dan api. Alam syahadah mutlak disebut juga alam dunia (dari akar kata dana, berarti rendah).

Alam dunia ini juga terdiri atas alam mineral, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan sebagian unsur manusia.

(http://www.republika.co.id/berita/tingkatan-alam-menurut-para-sufi-1)

2.4 Alam Dunia

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً۬ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٲتِ رِزۡقً۬ا لَّكُمۡ‌ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلۡفُلۡكَ لِتَجۡرِىَ فِى ٱلۡبَحۡرِ بِأَمۡرِهِۦ‌ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلۡأَنۡهَـٰرَ (٣٢) وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ دَآٮِٕبَيۡنِ‌ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّہَارَ (٣٣)

(Allahlah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untuk kalian dan Dia telah menundukkan bahtera bagi kalian) yang dimaksud adalah perahu (supaya bahtera itu berlayar di lautan) sehingga kalian dapat menaikinya dan memuat barang-barang di atasnya (dengan kehendak-Nya) dengan seizin-Nya (dan Dia telah menundukkan pula bagi kalian sungai-sungai.)

(Dan Dia telah menundukkan pula bagi kalian matahari dan bulan yang terus-menerus beredar) di dalam garis edarnya secara terus-menerus dan tidak pernah berhenti (dan Dia telah menundukkan pula bagi kalian malam) supaya kalian tenang di dalamnya (dan siang) dan supaya kalian mencari kemurahan Allah di dalamnya. (Jalaluddin Al Mahalli As Suyuthi ; Tafsir Al Jalalain Q.S Ibrahim : 32-33)

Al-Qur’an menjelaskan alam dunia sebagai alam di mana manusia tinggal. Alam dimana ada bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atapnya. Adapun alam dunia ini tidak hanya di isi oleh manusia, namun juga oleh tumbuhan dan hewan.

2.4.1 Alam Manusia

Ketika berbicara tentang manusia, Al-Qur’an menyebutnya dengan beberapa sebutan di antaranya adalah basyar, ins, insaannaas dan bani Adam.

Dan diantara semuanya, kata Naas merupakan kata yang paling banyak digunakan untuk menyebut manusia. Kata ini disebutkan sebanyak 240 kali di dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an paling banyak menggunakan kata ini dibandingkan dengan kata-kata yang disebut di atas meskipun sama-sama mengacu pada manusia. Kemunculan kata tersebut dalam al-Qur’an mencapai 240 kali.

Pengamatan terhadap pemakaian kata naas dalam Al-Qur’an memperlihatkan bahwa al-Qur’an menggunakannya dalam pengertian manusia dalam aktualnya di muka bumi dengan segala sepak terjangnya, apakah negatif ataupun positif.

Manusia ini adalah manusia yang berada dalam ruang dan waktu yang aktual. Karena mengacu pada wujud manusia secara faktual dalam kehidupan dunia ini, kepada naas inilah titah Tuhan sering diarahkan, seperti titah untuk menyembah, memakan makanan yang halal dan bagus, dan lain sebagainya.

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ (٢١)

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, (QS. al-Baqarah: 21)

ـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِى ٱلۡأَرۡضِ حَلَـٰلاً۬ طَيِّبً۬ا وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٲتِ ٱلشَّيۡطَـٰنِ‌ۚ إِنَّهُ ۥ لَكُمۡ عَدُوٌّ۬ مُّبِينٌ (١٦٨)

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. al-Baqarah: 168)

  1. Kebutuhan Manusia Akan Pedoman Hidup

Al Qur’an adalah petunjuk dari Allah SWT untuk manusia hingga akhir zaman kelak. Al Qur’an turun kepada manusia secara berangsur-angsur melalui Nabi Muhammad SAW. Setelah suatu ayat turun, Nabi Muhammad SAW segera menyampaikannya kepada para sahabat dan umat manusia pada waktu itu.

Kemudian di antara para sahabat dan umat manusia ada yang menghafalkannya sehingga kemurnian Al Qur’an selalu terjaga. Bahkan setelah Rasulullah SAW wafat kemurnian Al Qur’an tetap terjaga karena banyaknya para penghafal Al Qur’an di tengah umat Islam.

Dirintis sejak masa khalifah Abu Bakar dan direalisasikan pada masa Khalifah Utsman, Al Qur’an dibukukan menjadi satu mushaf. Pembukuan tersebut bermanfaat mendukung penjagaan kemurnian Al Qur’an yang telah dan terus dilakukan oleh para penghafal Al Qur’an. Walaupun diduga pada masa sekarang ini pembukuan Al Qur’an juga diwarnai oleh motif yang kurang tepat, seperti motif bisnis atau motif perpecahan, namun kemurnian Al Qur’an tetap terjaga dengan izin Allah dan ketekunan para penghafalnya.

Al Qur’an adalah petunjuk Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Al Qur’an menunjuki manusia dalam ibadah manusia kepadaNYA maupun dalam muamalah manusia kepada manusia yang lain, baik berupa muamalah politik, ekonomi, maupun muamalah pergaulan. Demikian juga Al Qur’an menunjuki manusia dalam merawat dirinya sendiri, berupa berpakaian, makan, minum dan berakhlakul karimah. Dengan demikian Al Qur’an adalah petunjuk Allah SWT kepada manusia dalam seluruh aspek kehidupan.

Berdasarkan hal itu dapat disimpulkan bahwa manusia membutuhkan Al Qur’an sebab Al Qur’an jelas sekali sampai akhir zaman merupakan petunjuk dari Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan. Melalui Al Qur’an manusia tidak akan kebingungan apalagi tersesat. Melalui Al Qur’an manusia akan tertuji dalam kehidupannya.

Selain itu, petunjuk Al Qur’an disampaikan kepada Nabi Muhammad dan diteruskan kepada umat manusia dan para sahabatnya dalam bentuk lisan. Yang selanjutnya dihafal oleh banyak umat Islam. Al Qur’an dalam bentuk mushaf baru muncul belakangan dan metode utama menjaga kemurniannya tetap berupa hafalan Al Qur’an. Al Qur’an adalah petunjuk dari Allah SWT sampai akhir zaman nanti.

Demikian juga jika memperhatikan perbedaan isinya, manusia akan sampai pada kesimpulan bahwa Al Qur’an adalah petunjuk Allah SWT, sedangkan selain itu bukan petunjuk Allah SWT.

Isi Al Qur’an yang penuh mukjizat itu mencakup seluruh aspek kehidupan sedangkan petunjuk yang lain tidak lengkap dan tidak mencakup seluruh aspek kehidupan. Perbandingan ini sangat menunjukkan bahwa yang dibutuhkan manusia sebagai petunjuk adalah Al Qur’an yang dibawa Nabi muhammad SAW.

  1. Perintah untuk berfikir

Manusia adalah makhluk yang sempurna karena diberi anugerah kelebihan untuk berfikir terhadap segala yang ada di alam sebagai wujud dalam kehidupan. Aktifitas berfikir sebagai karakter utama manusia mendapat perhatian yang istimewa dalam al-Qur’an. Akal yang merupakan alat untuk berfikir disebutkan al-Qur’an sebanyak 49 kali. Hal ini mengisyaratkan bahwa akal adalah sebuah proses berfikir yang berkesinambungan tanpa henti, sebab  akal tidak akan memiliki makna kalau tidak digunakan.

وَسَخَّرَ لَڪُمُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ‌ۖ وَٱلنُّجُومُ مُسَخَّرَٲتُۢ بِأَمۡرِهِۦۤ‌ۗ إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّقَوۡمٍ۬ يَعۡقِلُونَ (١٢)

“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahaminya(menggunakan akal).” (QS.An-Nahl:12)

Pada hakikatnya Semua manusia mengalami 3 fase ,yaitu : Kelahiran (Awal dari Kehidupan didunia), kematian dan kebangkitan

قَالَ فِيہَا تَحۡيَوۡنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنۡہَا تُخۡرَجُونَ (٢٥)

“Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. (Q.S. Al-Araf : 25)

2.4.2 Dunia tumbuhan

Dalam biologi, tumbuhan adalah organisme eukariota multiseluler yang tergolong ke dalam kerajaan plantae.

Tanaman hijau memiliki dinding sel yang kokoh mengandung selulosa. Hampir semua anggota tumbuhan bersifat autotrof, yakni memproduksi energi sendiri dengan mengubah energi cahaya matahari melalui proses yang disebut fotosintesis dalam organel sel bernama kloroplas. Karena warna hijau yang dominan pada anggota kerajaan ini, nama lain yang dipakai adalah Viridiplantae (“tetumbuhan hijau”). Nama lainnya adalah Metaphyta. Namun ada juga tumbuhan yang bersifat parasit dan beberapa sudah tidak memiliki kemampuan fotosintesis dengan sedikit atau bahkan tanpa klorofil. Tanaman juga bisa dikarekterisasi dari cara mereka berkembang biak, kemampuan pertumbuhan, dan pergiliran keturunan.

Tercatat sekitar 350.000 spesies organisme termasuk di dalamnya, tidak termasuk alga hijau. Dari jumlah itu, 258.650 jenis merupakan tumbuhan berbunga dan 18.000 jenis tumbuhan lumut. Tumbuhan hijau menghasilkan hampir seluruh molekul oksigen di muka bumi ini dan merupakan bagian terpenting dalam sistem ekologi bumi. Tumbuhan-tumbahan yang sudah di domestikasi bisa menghasilkan biji, buah-buahan dan sayuran yang berguna sebagai bahan dasar pangan manusia. Selain itu tumbuhan juga digunakanan sebagai tanaman hiasan dan banyak yang berkhasiat obat serta digunakan dalam ilmu medis. Ilmu mengenai studi tanaman disebut botani, yakni salah satu cabang ilmu biologi.

Di dalam Al-Qur’an, banyak ayat yang menyebutkan tentang tumbuhan, salah satunya adalah :

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً۬‌ۖ لَّكُم مِّنۡهُ شَرَابٌ۬ وَمِنۡهُ شَجَرٌ۬ فِيهِ تُسِيمُونَ (١٠) يُنۢبِتُ لَكُم بِهِ ٱلزَّرۡعَ وَٱلزَّيۡتُونَ وَٱلنَّخِيلَ وَٱلۡأَعۡنَـٰبَ وَمِن ڪُلِّ ٱلثَّمَرَٲتِ‌ۗ إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَأَيَةً۬ لِّقَوۡمٍ۬ يَتَفَڪَّرُونَ (١١)

Dia-lah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya menyuburkan tumbuh-tumbuhan yang (pada tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagimu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. An-Nahl: 10-11)




2.4.3 Dunia hewan

Selain manusia, hewan adalah salah satu makhluk yang mengisi alam dunia, memiliki tujuan tersendiri dalam penciptaannya, selain untuk turut membantu kelangsungan hidup manusia, hewan-hewan ini juga mampu memberikan pelajaran bagi manusia.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡىِۦۤ أَن يَضۡرِبَ مَثَلاً۬ مَّا بَعُوضَةً۬ فَمَا فَوۡقَهَا‌ۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡ‌ۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ ڪَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَـٰذَا مَثَلاً۬‌ۘ يُضِلُّ بِهِۦ ڪَثِيرً۬ا وَيَهۡدِى بِهِۦ كَثِيرً۬ا‌ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦۤ إِلَّا ٱلۡفَـٰسِقِينَ (٢٦) ٱلَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهۡدَ ٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ مِيثَـٰقِهِۦ وَيَقۡطَعُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦۤ أَن يُوصَلَ وَيُفۡسِدُونَ فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡخَـٰسِرُونَ (٢٧)

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka)untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi. (Q.S. Al-Baqarah :26-27).

Ada 4 hewan yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, yaitu :

  1. Nyamuk
  2. Unta
  3. Lalat
  4. Lebah madu.

Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas salah satu dari hewan tersebut, yaitu lebah madu.

2.5 Lebah Madu

وَأَوۡحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحۡلِ أَنِ ٱتَّخِذِى مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتً۬ا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعۡرِشُونَ (٦٨) ثُمَّ كُلِى مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٲتِ فَٱسۡلُكِى سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلاً۬‌ۚ يَخۡرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٌ۬ مُّخۡتَلِفٌ أَلۡوَٲنُهُ ۥ فِيهِ شِفَآءٌ۬ لِّلنَّاسِ‌ۗ إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَأَيَةً۬ لِّقَوۡمٍ۬ يَتَفَكَّرُونَ (٦٩)

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia,” kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.”
(QS. An-Nahl: 68-69)

Lebah madu mencakup sekitar tujuh spesies lebah dalam genus Apis, dari sekitar 20.000 spesies yang ada. Saat ini dikenal sekitar 44 subspesies. Mereka memproduksi dan menyimpan madu yang dihasilkan dari nektar bunga. Selain itu mereka juga membuat sarang dari malam, yang dihasilkan oleh para lebah pekerja di koloni lebah madu.

Lebah madu yang ada di alam Indonesia adalah A. andreniformis, A. cerana dan A. dorsata, serta khusus di Kalimantan terdapat A. koschevnikovi.

Lebah madu telah dikenal oleh manusia sejak zaman budaya-budaya kuno beberapa ribu tahun yang lalu.

Pembudidayaan lebah madu yang kini populer berasal dari kawasan Laut Tengah (Afrika Utara, Eropa selatan dan Asia Kecil) yang selanjutnya menyebar ke seluruh wilayah dunia.

Bangsa Mesir Kuno membuat corong dari tanah liat sebagai sarang lebah, kemudian dari keranjang anyaman.

Di Afrika, lebah madu dipelihara dalam bongkahan kayu berbentuk silinder dan sarang tersebut digantung di pohon.

Bangsa Rusia sebagai pengembang lebah madu secara modern, malahan disebut sebagai daerah lahan madu. Rusia mulai mengembangkan peternakan madu sejak abad ke 10 hingga kini. Mereka yang menemukan sarang lebah madu yang bisa dipindah-pindahkan, teknik tersebut diperkenalkan oleh Peter Prokovich (1775-1850). (https ://id.wikipedia.org/wiki/Lebah_madu).

Hampir semua orang tahu bahwa madu adalah sumber makanan penting bagi tubuh manusia, tetapi sedikit sekali manusia yang menyadari sifat-sifat luar biasa dari penghasilnya, yaitu lebah madu.

Sebagaimana kita ketahui, sumber makanan lebah adalah nektar, yang tidak dijumpai pada musim dingin. Oleh karena itulah, lebah mencampur nektar yang mereka kumpulkan pada musim panas dengan cairan khusus yang dikeluarkan tubuh mereka. Campuran ini menghasilkan zat bergizi yang baru-yaitu madu-dan menyimpannya untuk musim dingin mendatang.

Sungguh menarik untuk dicermati bahwa lebah menyimpan madu jauh lebih banyak dari yang sebenarnya mereka butuhkan. Pertanyaan pertama yang muncul pada benak kita adalah: mengapa lebah tidak menghentikan produksi berlebih ini, yang tampaknya hanya membuang-buang waktu dan energi? Jawaban untuk pertanyaan ini tersembunyi dalam kata “wahyu” yang telah diberikan kepada lebah, seperti disebutkan dalam ayat tadi.

Lebah memproduksi madu bukan untuk diri mereka sendiri, melainkan juga untuk manusia. Sebagaimana makhluk lain di alam, lebah juga mengabdikan diri untuk melayani manusia; sama seperti ayam yang bertelur setidaknya sebutir setiap hari kendatipun tidak membutuhkannya dan sapi yang memproduksi susu jauh melebihi kebutuhan anak-anaknya. (Harun Yahya)

Selain sebagai penghasil madu yang memberikan banyak manfaat bagi manusia, lebah madu juga memberikan pelajaran dalam hal :

2.5.1 Menentukan arah

Lebah madu bekerja secara berkelompok, dan untuk menentukan arah bunga, jaraknya dari sarang, serta sudut dan arah bunga tersebut, lebah madu menggunakan tarian khusus.

Tarian ini berbentuk angka “8” yang diulang terus-menerus oleh lebah tersebut. Lebah tersebut membentuk bagian tengah angka “8” dengan mengibas-ngibaskan ekor dan bergerak zig-zag. Sudut antara gerakan zig-zag dan garis matahari-sarang menunjukkan arah sumber makanan dengan tepat.

Akan tetapi, sekadar mengetahui arah sumber makanan tidaklah cukup. Lebah pekerja juga harus “mengetahui” seberapa jauh mereka harus menempuh perjalanan mengumpulkan bahan pembuat madu. Jadi, lebah dari sumber bunga tersebut memberitahukan jarak serbuk bunga dengan gerakan tubuh tertentu, yakni dengan menggoyangkan bagian bawah tubuhnya dan menimbulkan aliran udara. Misalnya, untuk “menjelaskan” jarak 250 m, ia mengibaskan bagian bawah tubuhnya lima kali dalam setengah menit. Dengan demikian, lokasi pasti sumber makanan tersebut dapat dijelaskan dengan terperinci, baik tentang jarak maupun arahnya.

Ada masalah baru bagi lebah yang memerlukan waktu lama untuk terbang ke sumber makanan. Saat lebah -yang hanya mampu menjelaskan sumber makanan berdasarkan arah matahari- kembali ke sarangnya, matahari bergeser 1cm setiap 4 menit. Akhirnya, lebah akan melakukan kesalahan 1cm setiap 4 menit perjalanannya, yang ia beri tahukan pada lebah-lebah lain.

Anehnya, lebah ini tidak menghadapi persoalan tersebut. Mata lebah terdiri atas ratusan mata segi enam kecil. Setiap lensa berfokus pada satu wilayah sempit, persis seperti teleskop. Lebah yang melihat ke arah matahari pada waktu tertentu di siang hari akan selalu dapat menentukan lokasinya saat terbang.

Lebah melakukan perhitungan ini dengan memanfaatkan perubahan cahaya matahari berdasarkan waktu. Akibatnya, lebah menentukan arah lokasi sasaran tanpa salah, dengan melakukan koreksi dalam informasi yang ia berikan di dalam sarang ketika matahari bergerak maju. (Yahya, 2004)




2.5.2 Metode penandaan bunga

Lebah madu dapat mengetahui kalau bunga yang ia temui telah didatangi dan diambil nektarnya lebih dahulu oleh lebah lain, dan ia segera meninggalkannya. Dengan demikian, ia menghemat waktu dan tenaga. Lalu, bagaimana seekor lebah mengetahui, tanpa memeriksa, bahwa nektar bunga tersebut telah diambil?

Ini terjadi karena lebah yang mendatangi bunga terlebih dahulu menandainya dengan tetesan berbau khas. Begitu seekor lebah baru mengunjungi bunga yang sama, ia mencium bau tersebut dan mengetahui bahwa bunga tersebut sudah tidak berguna dan karenanya langsung pergi ke bunga yang lain. Dengan demikian, lebah tidak membuang waktu pada bunga yang sama (Yahya, 2004)

2.5.3 Sarang lebah Madu

Sarang lebah digunakan sebagai model untuk membuat kerangka teleskop. Lensa teleskop angkasa yang dirancang untuk mengumpulkan sinar x yang dipancarkan benda-benda langit, dibuat dari cermin segi enam, meniru sarang lebah. Cermin segienam digunakan karena dengan bentuk ini tidak ada ruang yang terbuang. Memberikan medan penglihatan yang lebih luas dan teleskop berkualitas tinggi. Kombinasi ini juga akan memperkuat struktur secara umum. (Yahya, 2004)

2.5.4 Lebah madu dan Arsitektural

Adapun hal-hal yang dapat di terapkan dalam karya Arsitektural dari sarang lebah adalah :

1.Pengaturan kelembapan dan ventilasi

“Kelembapan sarang, yang membuat madu memiliki kualitas perlindungan tinggi, harus dijaga pada batas-batas tertentu. Pada kelembapan di atas atau di bawah batas ini, madu akan rusak serta kehilangan kualitas dan gizinya.”

(http://id.harunyahya.com/id/books).

Adapun dari segi Arsitektural, kelembapan dan ventilasi juga memegang peran penting, salah satunya adalah untuk menjaga suhu di dalam ruangan agar tetap nyaman bagi penggunaanya, sehingga tidak diperlukan mesin pendingin buatan yang justru merusak alam.

2. Penyimpanan Maksimal Dengan Bahan Minimal

“Selama jutaan tahun, lebah telah menggunakan struktur segi enam untuk membangun sarangnya. (Sebuah fosil lebah yang berusia 100 juta tahun telah ditemukan). Sungguh menakjubkan bahwa mereka memilih struktur segi enam, bukan segi delapan atau segi lima. Ahli matematika memberikan alasannya: struktur segi enam adalah bentuk geometris yang paling cocok untuk memanfaatkan setiap area unit secara maksimum.

Jika sel-sel sarang madu dibangun dengan bentuk lain, akan terdapat area yang tidak terpakai, sehingga lebih sedikit madu yang bisa disimpan dan lebih sedikit lebah yang mendapatkan manfaatnya.”

Bentukan ini sangat cocok diterapkan pada masa kini, mengingat jumlah penduduk yang terus bertambah dan lahan yang terus menyempit, sehingga akan ada banyak penduduk yang dapat di tampung dalam satu bangunan, hal ini akan semakin menghemat lahan, sehingga lahan yang tersisa dapat di upayakan sebagai ruang hijau, baik ruang hijau yang menghasilkan sumber daya maupun ruang hijau yang hanya berfungsi sebagai sarana rekreasi.

3. Estetika

Estetika merupakan salah satu pilar penting dalam arsitektur, mengingat arsitektur adalah ilmu yang mempelajari tentang penggabungan teknik serta seni.

, tafsir serta hadist

  1. Studi literatur dari buku-buku yang membahas tentang lebah madu
  2. Pencarian data melalui internet..

Lingkup Pembahasan

Lingkup pembahasan ditekankan pada hal-hal yang berada dalam disiplin ilmu arsitektur, untuk memahami lebih dalam tentang penerapan konsep sarang lebah madu berdasarkan apa yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, pada ilmu arsitektur.

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode yang Digunakan

A. Deskriptif Kualitatif Kritis

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif-kritis. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan penjelasan dan argumentasi berupa pengumpulan dan penyusunan data, serta analisis dan penafsiran data tersebut untuk menjelaskan fenomena dengan aturan berpikir ilmiah yang diterapkan secara sistematis tanpa menggunakan model kuantitatif atau normatif dengan mengadakan klasifikasi, penilaian standar norma, hubungan dan kedudukan suatu

unsur dengan unsur lain.

Dalam penjelasannya lebih menekankan pada kekuatan analisis data pada sumber-sumber data yang ada. Sumber-sumber tersebut diperoleh dari berbagai buku dan tulisan-tulisan lainnya dengan mengandalkan teori-teori yang ada untuk diinterpretasikan secara jelas dan mendalam.

B. Studi Kepustakaan

Studi ini mendasarkan kepada studi kepustakaan. Studi kepustakaan adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitiannya. Ia merupakan suatu penelitian yang memanfaatkan sumber perpustakaan untuk memperoleh data.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan penelitian deskriptif-kritis

dengan lebih menekankan pada kekuatan analisis sumber-sumber dan data-data yang ada dengan mengandalkan teori serta konsep yang ada untuk diinterpretasikan berdasarkan tulisan-tulisan yang mengarah kepada pembahasan.

3.2 Data yang Diperlukan

Data yang diperlukan dalam penulisan skripsi ini bersifat kualitatif tekstual dengan mengacu pada Al-Qur’an, tafsir, Hadist serta pendapat para ulama.

3.3 Sumber Data

Dalam penulisan karya ilmiah ini, penulis menggunakan Al-Qur’an dan tafsir sebagai sumber data penelitian.

Al-Qur’an dan tafsir sebagai sumber dasar atau data primernya, dalam hal ini adalah acuan penting yang berkaitan dengan pengertian alam di dalamnya, penjelasan tentang pembelajaran yang dapat diperoleh dari lebah madu dan penerapannya pada bidang arsitektural.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi, selain berpedoman pada Al-Qur’an dan tafsir, juga mengidentifikasi wacana dari buku-buku, makalah atau artikel, majalah, jurnal, koran, web (internet), ataupun informasi lainnya yang berhubungan dengan judul penulisan untuk mencari hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, dan sebagainya yang mempunyai keterkaitan dengan kajian tentang alam, lebah madu dan penerapannya pada karya arsitektural.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Suharsimi Arikunto, metode dokumentasi adalah mencari suatu data mengenai suatu hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti-prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya.

3.5 Teknik Analisis Data

A. Analisis Data

Dalam penelitian ini, setelah data terkumpul maka data tersebut dianalisis untuk mendapatkan konklusi, bentuk-bentuk dalam teknik analisis data sebagai berikut:

1) Metode Analisis Deskriptif yaitu usaha untuk mengumpulkan dan menyusun suatu data, kemudian dilakukan analisis terhadap data tersebut.

Pendapat analisis data deskriptif tersebut adalah data yang terdiri dari kumpulan kata-kata dan gambar bukan dalam bentuk angka-angka, hal ini disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif.

Selain itu, semua yang dikumpulkan kemungkinan menjadi kunci

terhadap apa yang sudah diteliti. Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut.

2) Content Analysis atau Analisis Isi. Menurut Weber, Content Analysis adalah metodologi yang memanfaatkan seperangkat prosedur untuk menarik kesimpulan yang tepat dari sebuah dokumen.

Menurut Hostli bahwa Content Analysis adalah teknik apapun yang digunakan untuk menarik kesimpulan melalui usaha untuk menemukan karekteristik pesan, dan dilakukan secara objektif dan sistematis.

Kajian dengan cara analisis isi ini dapat dibandingkan antara satu buku dengan buku yang lain dalam bidang yang sama, baik berdasarkan perbedaan waktu penulisannya maupun mengenai kemampuan buku-buku tersebut dalam mencapai sasaran sebagai bahan yang disajikan kepada masyarakat atau sekelompok masyarakat tertentu. Kemudian data kualitatif tekstual yang diperoleh dikatagorikan dengan memilah data tersebut. Sebagai syarat yang dikemukakan oleh Noeng Muhajir tentang Content Analysis yaitu, objektif, sistematis, dan general.

3) Analisis Kritis adalah sebuah pandangan yang menyatakan peneliti

bukanlah subyek yang bebas nilai ketika memandang penelitian. Analisis yang sifatnya kritis umumnya beranjak dari pandangan atau nilai-nilai tertentu yang diyakini oleh peneliti. Oleh karena itu, keberpihakan peneliti dan posisi peneliti atas suatu masalah sangat menentukan bagaimana teks/ data ditafsirkan.

Paradigma kritis lebih kepada penafsiran karena dengan penafsiran kita dapatkan dunia dalam, masuk menyelami dalam teks, dan menyikapi makna yang ada di baliknya.

B. Metode Pembahasan

Untuk mempermudah dalam penulisan ini, maka sangat diperlukan

untuk menggunakan pendekatan-pendekatan yaitu:

1) Metode induktif adalah berangkat dari fakta-fakta atau peristiwa-peristiwakhusus dan kongkrit, kemudian digeneralisasikan menjadi kesimpulan yang bersifat umum.

2) Metode deduktif adalah metode yang berangkat dari pengetahuan yang bersifat umum saat hendak menilai sesuatu kejadian yang sifatnya khusus.

3) Metode komparasi adalah meneliti faktor-faktor tertentu yang berhubungan dengan situasi atau fenomena yang diselidiki dan membandingkan satu faktor dengan yang lain, dan penyelidikan bersifat komparatif.

 

……. Selanjutnya Baca Bagian 2 disini

Bagikan

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Like us
Categories