Retro merupakan konsep yang pernah popular pada masa lalu terutama yang berkembang antara tahun 1930 hingga sekitar tahun 1970. Ciri khas dari desain interior bergaya retro adalah sifatnya yang atraktif. Tujuan penggunaan dari desain retro ini adalah untuk memberikan sentuhan klasik pada ruangan atau memang untuk memunculkan memori yang berkaitan dengan gaya-gaya yang berkembang pada masa itu. Sebelum membahas bagaimana konsep retro tersebut pada desain interior, akan dibahas terlebih dahulu beberapa jenis konsep retro yang berkembang pada masa tersebut.

  1. Retro Art Deco

Retro Art Deco identik dengan konsep, bentuk lebih simpel, seperti Furnitur berbentuk formal lingkaran, kotak dan segitiga dengan garis yang tegas, simpel tanpa lekuk rumit, berkaki pendek dan membesar ke arah horisontal. Bahan yang digunakan adalah bahan kayu solid dengan aksentuasi besi, kuningan, atau logam. Warna dinding hijau mint, krem, kuning gading, beige, dan abu-abu muda.

  1. Retro Fifties

Retro Fifties menggunakan furnitur berbahan fiber, formika, vinil, busa karet, melamin, atau plastik. Untuk warna, gaya ini menggunakan Warna fuchsia,merah, kuning, jingga, menjadi warna aksentuasi primer, baik untuk dinding, furnitur maupun upholstery.

  1. Pop Art

Retro Pop Art memiliki ciri khas dari bentuk dan gayanya yang tajam serta unik. Warna yang digunakan pada gaya ini juga sangat beragam sehingga memiliki tampilan paling berbeda dari gaya retro yang lain.

  1. Retro Seventies

Gaya Retro Seventies merupakan kelanjutan atau bisa dikatakan sebagai evolusi dari gaya Retro Art Deco, namun untuk gaya ini tidak serumit masa sebelumnya dan cenderung bernuansa gelap. Penggunaan warna-warna tanah membuat nuansa ruang pada tahun ini cenderung natural dan hangat.

(Sumber : http://dekor-minimalis.blogspot.com | Diakses pada 11.05 AM, Kamis, 15 Mei 2014)

Dari beberapa jenis gaya retro tersebut dapat dikatakan jika konsep retro pada desain interior memang bertujuan untuk menciptakan kesan masa lalu atau klasik baik dari penggunaan warna maupun furnitur.

Konsep Retro dari segi Warna

Pilihan warna pada desain retro biasanya jatuh pada warna-warna yang cerah dan tajam, seperti misalnya hijau laut, pink, merah ceri, kuning mentega, coklat, orange dan lain-lain.

(Sumber : http://www.inirumahkita.com | Diakses pada 10.20 AM, Kamis, 15 Mei 2014)

Kombinasi warna cat menurut Mas Yanto, kombinasi warna terang, mencolok dan penuh energi menjadi salah satu ciri dari desain ala retro.

(Sumber : http://www.gambarrumahminimalis.net | Diakses pada 11.12 AM, Kamis, 15 Mei 2014)

Menurut Santi Widhiasih dalam Tabloid Rumah, penggunaan warna-warna yang berani, seperti oranye tua, hijau lemon, merah menyala, serta kuning yang menyerupai warna mostar merupakan penerapan warna pada gaya retro.

(Sumber : http://nasional.kompas.com | Diakses pada 11.30 AM, Kamis, 15 Mei 2014)ImageImage

Dari beberapa sumber di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan warna dari konsep retro pada desain interior cenderung mengarah pada warna-warna yang cerah, mencolok, dan berani seperti warna merah, kuning dan orange yang menciptakan suasana ceria, hangat dan klasik.

Konsep Retro dari segi Pola dan Bentuk

Pada desain retro untuk motif biasanya seperti motif kotak-kotak dan geometris.

(Sumber : http://www.inirumahkita.com | Diakses pada 10.20 AM, Kamis, 15 Mei 2014)

Desain retro adalah gaya yang semua penataannya kembali ke dekorasi era tahun 50-an sampai 60-an. Kata retro sendiri merupakan kependekan dari retrospektif, yaitu kembali ke masa lalu. Salah satu cirinya adalah pemakaian bentuk-bentuk geometris dan warna-warna ceria disertai pemakaian material sintetis.

(Sumber : http://rumah-peluangjakarta.blogspot.com | Diakses pada 11.22 AM, Kamis, 15 Mei 2014)

Adapun motif yang mendukung gaya retro adalah berpola monoton yang hanya terdiri dari sebuah bentuk simetris namun berjumlah banyak sehingga dominan menutup seluruh bagian secara teratur. Pola kotak kotak dan geometris, biasanya sering dipakai dalam menghadirkan suasana retro ini.

(Sumber : http://bayuarda.blogspot.com | Diakses pada 11.27 AM, Kamis, 15 Mei 2014)

ImageImage

 

ImageImage

Pola dan bentuk dari motif yang diterapkan oleh konsep retro berupa pola kotak-kotak dan geometris pada elemen dinding dan lantai seperti terlihat pada gambar. Pola tersebut memberikan kesan formal dan simple pada ruangan seperti halnya bentuk segitiga atau garis tegak yang terkesan tegas. Pola dan motif tersebut juga harus didukung dengan penggunaan warna yang sesuai dengan gaya retro untuk menciptakan suasana ruang yang diinginkan.

Konsep Retro dari segi Material

Inovasi material dalam dunia industri pada masa 1960-an sampai 1970-an juga mendorong terciptanya kreasi baru dalam elemen-elemen interior. Plastik, akrilik, fiberglass, vinil, dan teknologi baru dalam pengolahan kayu lapis dimanfaatkan dalam pembuatan elemen interior, mulai dari finishing dinding, lantai, plafon, sampai furnitur.

(Sumber : http://nasional.kompas.com | Diakses pada 11.30 AM, Kamis, 15 Mei 2014)

Desain retro adalah gaya yang semua penataannya kembali ke dekorasi era tahun 50-an sampai 60-an. Kata retro sendiri merupakan kependekan dari retrospektif, yaitu kembali ke masa lalu. Salah satu cirinya adalah pemakaian bentuk-bentuk geometris dan warna-warna ceria disertai pemakaian material sintetis.

(Sumber : http://rumah-peluangjakarta.blogspot.com | Diakses pada 11.22 AM, Kamis, 15 Mei 2014)

Retro Fifties menggunakan furnitur berbahan fiber, formika, vinil, busa karet, melamin, atau plastik. Untuk warna, gaya ini menggunakan Warna fuchsia,merah, kuning, jingga, menjadi warna aksentuasi primer, baik untuk dinding, furnitur maupun upholstery.

(Sumber : http://dekor-minimalis.blogspot.com | Diakses pada 11.05 AM, Kamis, 15 Mei 2014)

Material yang digunakan pada elemen lantai, dinding dan plafond serta furniture pada konsep retro berupa material sintetis seperti plastik, fiberglass, vinil, melamin dan kayu lapis yang banyak dijumpai saat ini. Bentuk yang simple namun berwarna merupakan perwujudan dari penggunaan material sintetis tersebut untuk menciptakan suasana ruang yang bergaya retro.Image

Konsep Retro dari segi Furnitur

Furniture yang dapat digunakan untuk menciptakan suasana retro tidak harus selalu berupa barang antik dari tahun 1950-an, namun dapat diperoleh juga dengan mudah seperti jenis furniture yang berbentuk ramping yang memiliki pola wallpaper dan kain. Meja berbahan dasar formika sebagai furniture yang berasal dari tahun 1950-an.

Image

(Sumber : http://furniture.about.com | Diakses pada 11.20 AM, Kamis, 15 Mei 2014)

Menurut Annahape dalam artikelnya, gambar berikut ini memperlihatkan sketsa dan foto ruang furniture di ruang tamu.

ImageImage

Kali ini pilihannya adalah warna orange dan putih. Warna putih pada coffee table dan warna orange pada sofa. Kesan klasik kami tampilkan pada bentuk lengkung di kedua furniture. Sementara unsur modern pada penggunaan kaca di coffee table. Warna cat dinding juga disesuaikan dengan warna furniture.

(Sumber : http://annahape.com | Diakses pada 11.50 AM, Kamis, 15 Mei 2014)

Menurut Santi Widhiasih dalam Tabloid Rumah, kursi sebagai furnitur dan juga salah satu elemen interior tidak lagi dipandang hanya dari segi fungsinya, tetapi juga dipandang sebagai elemen estetis. Hal ini sangatlah berbeda dengan furnitur pada jaman Bauhaus dengan bentuk-bentuk yang simpel dan fungsional, dengan material besi, aluminium, dan plywood.

Kursi di era 60-an dan 70-an tidak seperti itu. Ditunjang material dan pemikiran baru, lahirlah kursi yang plastis nan estetis yang dapat diibaratkan karya pahat (sculpture) yang bersifat sculptural. Sebagai contoh, lihatlah egg chair dan swan chair karya Arne Jacobson, tulip chair karya Eero Saarinen, panton’s chair karya Verner Panton, serta globe chair dan bubble chair karya Eero Aarnio.

(Sumber : http://nasional.kompas.com | Diakses pada 11.30 AM, Kamis, 15 Mei 2014)

Dari beberapa sumber diatas, furniture yang digunakan untuk menciptakan kesan retro adalah barang-barang antik yang berasal dari tahun 1950-1970-an, furniture yang memiliki pola wallpaper dan kain, dan memiliki sedikit bentuk lengkung untuk menciptakan kesan klasik. Sehingga dapat dikatakan bahwa furniture yang berbentuk simple, fungsional dan memiliki nilai estetika serta berbahan dasar material sintetis akan lebih mudah menciptakan kesan retro.

Image

 

Jadi dapat disimpulkan bahwa Konsep Retro pada desain interior merupakan konsep yang bertujuan untuk menciptakan kesan klasik dan hangat pada ruangan dengan menerapkan penggunaan warna yang cerah, mencolok dan berani, dengan pola dan bentuk motif berupa kotak-kotak dan geometris, penggunaan material sintetis pada elemen lantai, dinding, plafond dan furnitur serta penempatan furnitur yang berupa barang antik atau yang berbahan dasar material sintetis untuk menciptakan kesan simple namun memiliki nilai estetika serta fungsional. ( Sumber : http://interiorudayana14.wordpress.com/ )

Bagikan

Categories:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Like us
Categories