” Elemen ini memiliki fungsi mulia. Tapi bila salah penempatan, alih-alih mengurangi cahaya masuk, kehadirannya justru membuat ruang terasa gelap dan suram “.

Rumah yang menghadap barat mendapat intensitas dan sinar matahari lebih besar daripada rumah yang menghadap ke arah selatan atau utara. Itu sebabnya, ruang yang ada di sisi barat biasanya memiliki suhu yang relatif lebih tinggi ketimbang ruang lainnya.

Salah satu cara yang kerap ditawarkan para arsitek untuk mengatasi hal ini adalah dengan membuat secondary skin atau kulit kedua bangunan. Secondary skin merupakan lapisan yang di tambahkan pada dinding luar bangunan, namun tidak menempel pada dinding tersebut. Ren katili, arsitek dari biro Arsitek Tropis, mengungkapkan secondary skin adalah kulit kedua bangunan yang tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, juga sebagai peredam panas dan penghalau cahaya.

EXPLORASI MATERIAL DAN BENTUK

Material untuk secondary skin pun beragam dan tanpa batas. Anda bisa bereksplorasi dengan material-material yang ada dengan pola-pola yang menarik. Material yang paling banyak digunakan sebagai pembentuk kulit kedua bangunan ini adalah roster, kayu solid, kayu imitasi, besi hollow, laser cutting, kaca, dan bambu serta tanaman merambat – misalnya tanaman lee kwan yew. Lewat permainan bentuk, pola dan efek pencahayaan, secondary skin dapat membuat fasad tampil elok dan trendi.

secondary skin layer

ATURAN MAIN PENEMPATAN

Penempatan elemen secondary skin haruslah jelas. Tidak sembarangan dibuat tanpa mengindahkan aturan mainnya. Ada beberapa aturanmain yang harus anda perhatikan sebelum mengaplikasikan elemen ini pada fasad hunian.

Pertama, perhatikan arah hadarp area hunian. Bagian yang menghadap ke barat di prioritaskan untuk menggunakan secondary skin. “ Sisi barat akan mendapat panas lebih banyak, sedang bagian utara, selatan, dan timur justru harus mendapat banyak asupan cahaya matahari agar terang “, ujar Ren.

Kedua, perhatikan jarak buka daun jendela dengan secondary skin agar saat jendela dibuka, tidak berbenturan dengan rangka secondary skin. Jarak minimal yang dibutuhkan adalah dengan 40 – 90 cm.

Ketiga, perhatikan pemilihan material rangka dan posisi secondary skin. Arsitek Sukendro Suhendar sangat mnghimbau untuk tidak menggunakan material roster sebagai secondary skin pada lantai kedua bangunan. Beban berat yang dimiliki oleh material ini membuatnya rentan menimbulkan bahaya.

Keempat, bila ingin memberikan efek cahaya di malam hari, perhatikan instalasi kabel lampu agar tidak korslet saat diguyur hujan.

Nah, bila sudah mengindahkan aturan mainnya, anda bisa mengaplikasikannya dan menikmati keindahan bias-bias cahaya yang terbentuk dari pola secondary skin. Dapat sejuknya, dapat pula estetika nya.

 

 

Bagikan

Categories:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Like us
Categories